ADSENSE

Jika TIDAK KEBERATAN mohon klik salah satu iklan di sebelah kiri !! yang berlabel KLIK SATU IKLAN !!

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Download The Avengers 2012 !!

Film yang sangat fenomenal, Banyak seper Hero Bergabung disini.

Yang seperti inikah teroris?

masih bingung antara benar dan salah.

Cara DOWNLOAD jika di alihkan ke ADF.ly!

Tunggu sebentar sekitar 5 detik, lalu klik [SKIP AD] atau drag [SKIP AD] ke addres bar.

Saturday, 9 June 2012

Piranha 3DD [2012]

http://www.joblo.com/images_arrow_reviews/piranha3dd-review.jpg
Piranha 3DD

REVIEW :

Seri pertamanya, Piranha 3D jelas tidak bisa dibilang film yang bagus, tapi jika mencari sebuah kombinasi kegilaan dari sadisnya piranha-piranha purba, potongan tubuh, galonan darah dan wanita-wanita seksi berbikini dengan parade payudara tanpa peduli soal kualitas cerita ataupun akting pemainnya maka anda sudah berada di tempat yang benar. Ya, dua tahun lalu sutradara spesialis horor remake asal Perancis Alexader Aja sudah menghadirkan sebuah guilty pleasure hebat dengan membuat daur ulang dari horor 1978 itu menjadi sebuah sajian monster attack ala B movie yang norak, lengkap dengan 3D dan komedi hitamnya yang menghibur. Hasilnya? Tidak buruk di box office apalagi untuk ukuran horor murah yang sama sekali tidak diperhitungkan sebelumnya.
Tentu saja banyak dollar berarti sekuel baru. Dan Dimension Film tampak begitu percaya diri untuk meneruskan kisah ikan-ikan jelek ini ke sekuel terbarunya dengan atau tanpa Aja sekalipun. Maka ditunjuklah John Gulager, sutradara Feast, film monster lain yang seru itu untuk membuat franchise ini menjadi lebih besar, sebesar ukuran cup bra yang digunakan untuk judulnya. Kisahnya sendiri cukup sederhana, bersetting satu tahun paska kejadian maut di danau Victoria yang kini menjadi kawasan terlarang untuk umum. Tidak jauh dari sana ada waterpark baru yang hendak di buka. Jadi bisa ditebak kemana nanti piranha-pirnaha purba yang masih tersisa itu akan berpesta selanjutnya.
Sama seperti pendahulunya, Piranha 3DD masih menggunakan resep usang yang sama, menjual kebrutalan dari monster ikan purba yang kini punya kemampuan semakin ajaib saja (berkembang biak layaknya Xenomorph dalam franchise Alien dan menghancurkan lempengan besi), pameran payudara dan bikini yang porsinya sudah dinaikan dua kali lipat degan kualitas cerita dan akting jauh lebih buruk, senang? Ah, tidak juga, kenapa? Karena Gulager bukan Aja, ia hanya tahu bagaimana menjiplak mentah-mentah formula Aja (termasuk adegan dimana seekor piranha menggi tanpa tahu bagaimana mengemasnya menjadi tontonan guilty pleasure yang menarik.
Jika Aja tampak sengaja membuat Piranha miliknya tampak bodoh untuk kita tertawakan, Piranha milik Gulager itu memang bodoh dalam artian sebenarnya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana menghadirkan momen gore yang asik seperti yang pernah dilakukannya dalam Feast, hasilnya parah,  Piranha 3DD seperti sebuah horor mesum dengan banyak mengumbar payudara dalam slowmotion, komedi tidak lucu, banyak momen bodoh serta jeritan-jeritan berisik dari finguran-figuran yang sepertinya tidak tahu bagaimana caranya keluar dari kolam renang dangkal itu. Mungkin yang menarik adalah kehadiran Ving Rhames yang kembali memerankan sosok deputi Fallon, veteran dari seri sebelumnya.
Kesalahan fatal Gulager lainnya, jika Aja punya Kelly Brook yang super seksi beserta momen balet dalam airnya yang ‘wah’ itu, Gulager malah membawa David Hasselhoff yang di sini memerankan dirinya sendiri sebagai cameo yang parahya sangat bangga mempermalukan dirinya sendiri. 20 menit menjelang akhir Piranha 3DD  sebenarnya sudah sangat buruk dan kehadiran Hasselhoff  membuatnya semakin berantakan. Dan disaat film berakhir, kita akan tahu bahwa franchise ini sepertinya tidak berhenti sampai sini saja ketika Christopher Lloyd memberitahu bahwa piraha-piranha itu mengalami evolusi ekstrim yang membuat mereka mampu hidup di darat, gila!
#Sumber :

SCREENSHOT : 

http://www.joblo.com/video/media/screenshot/Piranha-3DD---Official-HD-Trailer.jpg


http://images.hollywood.com/site/piranha3ddreview.jpg

http://rapidimg.org/images/FhMzX.jpg

jangan Lupa Like FB-nya!! atau klik DISINI!
Untuk Download Klik gambar QR code di bawah!!


PASSWORD Tinypaste :
Shimpel.blogspot.com

Ucapkan terimakasih anda dengan klik salah satu iklan dibawah!! TERIMA KASIH!!

Snow White and the Huntsman [2012]

http://www.comingsoon.net/gallery/70235/Snow_White_and_the_Huntsman_52.jpg
Snow White and the Huntsman

REVIEW :

Satu lagi film yang dibuat berdasarkan cerita dongeng anak-anak Snow White kini sudah bisa disaksikan di bioskop-bioskop kesayangan Criters. Namun jangan harap Criters akan melihat kisah tradisional Snow White dan 7 Kurcaci yang kekanak-kanakan dan penuh dengan warna-warni, sebaliknya “Snow White and the Huntsman” dibuat sangat gelap, bahkan terasa terlalu gelap untuk sebuah film yang diangkat dari dongeng.

Meski gelap dan banyak adegan kekerasan, “Snow White and the Huntsman” berhasil untuk menjaga semuanya masih layak tonton oleh remaja di atas 13 tahun. Target audiens remaja ini juga bisa menikmati interpretasi baru dari film Snow White yang kini dilengkapi dengan sekelompok mahluk-mahluk supernatural seperti Troll, Peri dan sejenisnya yang biasa didapatkan dari film-film fantasy seperti “The Lord of the rings”, “The Chronicles of Narnia” ataupun “Harry Potter”.

Secara visual, film besutan Rupert Sanders ini menawarkan berbagai setting yang kontras. Sanders menawarkan pengalaman sinematis yang luar biasa luas dan berbeda-beda, mulai dari suasana hutan kelam yang gelap dan mengerikan, hingga tona hijau terang di rumah para peri yang menyejukan mata. Di adegan pertarungannya pun, sang sutradara tak lupa untuk menyajikan sudut pandang-sudut pandang yang menggetarkan penonton.

Lewat bantuan teknologi, Sanders juga memaksimalkan penyutradaraannya, terutama dalam penggambaran karakter Charlize Theron yang dinamik dan powerful. Salah satu penggunaan CGI paling memukau dalam film ini bisa dilihat saat Charlize Theron merangkak dari cairan hitam yang sebelumnya merupakan sekelompok gagak mati yang berjatuhan.

Dari segi cerita, film ini tak terlalu jauh melenceng dari kisah aslinya. Snow White (Kristen Stewart) tumbuh sebagai anak yatim piatu di bawah kekuasaan Queen Ravenna (Chalize Theron), yang menikahi ayahnya dan lalu membunuhnya di malam pengantin. Snow dipenjara di menara utara istana, sementara itu Ravella menguasai kerajaan dengan tangan besi dan tak kenal ampun.

Ketika datang kesempatan bagi Snow White untuk kabur, ia pun menuju Dark Forest alias Hutan Kelam agar tak dikejar oleh para prajurit yang mengejarnya. Disana ia bertemu dengan sang pemburu (The Huntsman yang diperankan oleh Chris Hemsworth yang kali ini membawa kapak alih-alih palu godam :P), yang mana akhirnya setuju untuk membawa Snow untuk pergi ke istana seorang Duke pembangkang yang melawan Ravenna dan melindungi para pengungsi.

Disepanjang perjalanan mereka bertemu dengan troll, peri dan sekelompok kurcaci sambil diburu oleh adik sang Ratu, Finn (Sam Spruell) serta pasukan pemburu elitnya.

Penampilan paling mencuri perhatian dalam film ini ditampilkan oleh Charlize Therone yang tampak sangat menjiwai perannya. Tak hanya dari tona suara dan mimik muka, penonton bisa melihat semua kepedihan hati sang Ratu hanya dengan melihat matanya. Bahkan ketika akhirnya dijelaskan latar belakang kenapa dirinya jadi seperti itu, penonton tak bisa menahan diri untuk memahami dan bahkan mungkin memaklumi tindakannya tersebut. Sebuah pencapaian yang luar biasa, karena sebagai tokoh antagonis ia mampu membangkitkan rasa keberpihakan penonton terhadap dirinya.

Chris Hemsworth sendiri tak kalah menarik untuk ditonton. Dibalik semua keperkasaannya, dia mampu menggambarkan seorang pria yang kesepian dan tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa. Mungkin satu-satunya orang yang kurang menonjol dalam film ini justru si pemeran utama Snow White, Kristen Stewart. Dikenal sebagai pemeran Bella di seri “Twilight”, mimik wajah Kristen tampak tak terlalu datar untuk seseorang yang digadang-gadang sebagai seorang wanita paling cantik sedunia dalam film ini (bahkan konon lebih cantik dari Charlize Theron).

Secara garis besar “Snow White and the Huntsman” bisa dibilang berhasil merekonstruksi dongeng anak-anak menjadi sebuah tontonan epik yang cocok untuk dinikmati remaja dan dewasa. Keputusan sutradara untuk tidak menekankan pada cinta segitiga Snow White, The Huntsman dan Prince William di satu sisi menjaga integritas film ini, tapi di sisi lain menjadi sesuatu yang cukup disayangkan. Jika mereka menonjolkan kisah cintanya juga, bayangkan bakal jadi sebesar apa film ini jadinya? Bahkan bisa jadi mungkin menyaingi popularitas cinta segitiga “Twilight”. Just saying… 
#Sumber :

SCREENSHOT : 

http://collider.com/wp-content/uploads/snow-white-and-the-huntsman-movie-image-charlize-theron-2.jpg


http://i1.cdnds.net/12/07/618x414/snow_white_and_the_huntsman.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgl7rBLASWWh8v0eY6sxGHZoBMNMkKzhGTL-czNwt2Q2Q8hehTtKDrRVO7h4BU6uw_Y1zCJHOy7epZgoLxnHMbZl1-XrKBzWJ1vObri5DBmns1_sclUxnWmZuWZBRygag8vAE5mnV0Kfa4/s640/Kristen-Stewart-Snow-White-Huntsman-Set-Pictures.jpg

jangan Lupa Like FB-nya!! atau klik DISINI!
Untuk Download Klik gambar QR code di bawah!!


PASSWORD Tinypaste :
Shimpel.blogspot.com

Ucapkan terimakasih anda dengan klik salah satu iklan dibawah!! TERIMA KASIH!!

Battleship [2012]

http://cdn3.digitaltrends.com/wp-content/uploads/2012/05/battleship_ver11.jpg
Battleship

REVIEW :

Disutradarai oleh Peter Berg, yang terakhir kali mengarahkan Will Smith dan Charlize Theron dalam Hancock (2008), diproduseri oleh Brian Goldner dan Bennett Schneir yang juga memproduseri franchise Transformers (2007 – 2011) dan dibintangi oleh Taylor Kitsch yang baru saja membintangi John Carter (2012) dengan jalan cerita yang terinspirasi dari sebuah video game yang populer, Battleship sepertinya memiliki seluruh elemen yang tepat untuk menjadi sebuah film science fiction aksi yang dapat menyenangkan para penontonnya. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada film ini. Dihantui oleh penulisan naskah dan dialog yang minimalis serta tampilan visual yang tidak mampu menghadirkan sesuatu yang baru, Battleship cenderung tampil membosankan di sepanjang 131 menit durasi film ini berjalan.
Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jon Hoeber dan Erich Hoeber (Red, 2010), Battleship mengisahkan mengenai dua bersaudara dengan dua watak yang saling bertolak belakang, Stone (Alexander Skarsgård) dan Alex Hopper (Taylor Kitsch). Jika Stone merupakan anggota angkatan laut dengan tingkat kedisiplinan dan kehidupan yang begitu teratur, maka Alex adalah seorang pemuda tanpa pekerjaan, pemalas dan tanpa tujuan hidup yang jelas. Jengah melihat sang adik terus berada dalam kehidupan yang tidak pasti, Stone akhirnya memaksa Alex untuk turut bergabung dengannya di angkatan laut. Sebuah paksaan yang mau tak mau akhirnya diterima oleh Alex.
Paksaan tersebut bukanlah satu-satunya faktor yang membuat Alex menerima paksaan Stone. Alex kini sedang berusaha memikat hati Samantha Shane (Brooklyn Decker), gadis cantik yang merupakan puteri dari seorang perwira tinggi di angkatan laut, Vice Admiral Shane (Liam Neeson). Masa-masa awal Alex di angkatan laut jelas merupakan sebuah masa-masa yang sulit mengingat kebiasaan buruknya yang tak kunjung berubah. Namun, ketika sebuah ancaman datang dari luar angkasa untuk mengganggu ketentraman warga Bumi, Alex akhirnya merasa terpanggil. Bersama-sama rekannya di angkatan laut, Alex kemudian berjuang keras untuk menyelamatkan dunia.
Tentu saja, dengan premis yang ditawarkan oleh film ini, penonton seharusnya sudah dapat bersiap diri untuk menghadapi fakta bahwa Battleship bukanlah sebuah film yang berpegang teguh pada kekuatan penulisan naskah cerita atau dialognya. Battleship jelas adalah sebuah film yang ingin membuai penontonnya dengan tampilan special effect spektakuler lewat adegan-adegan ledakan maupun peperangannya. Peter Berg mampu menghadirkan kelebihan tersebut. Namun, jangan berharap terlalu banyak. Apa yang ditampilkan Berg lewat Battleship terasa bagaikan repetisi dari berbagai adegan aksi dan ledakan yang telah ditampilkan banyak film sejenis. Menarik dan tetap sanggup menjadi atraksi utama dalam film ini namun sangat jauh dari kesan inovatif.
Naskah cerita dan dialog yang dihantarkan dalam Battleship memang benar-benar ditampilkan seadanya, bahkan seringkali terasa dan terdengar menggelikan untuk didengar. Begitu juga dengan karakter-karakter yang dihadirkan secara dangkal. Tidak hanya dari karakter-karakter manusia, namun juga karakter makhluk asing luar angkasa yang dihadirkan. Penonton sama sekali tidak pernah mendapatkan penjelasan yang pasti mengenai apa yang dilakukan para makhluk asing tersebut, mengapa mereka menyerang Bumi, darimana mereka berasal dan berbagai pertanyaan lainnya. Singkatnya, para makhluk asing hadir di dalam jalan cerita Battleship hanya sebagai alasan untuk menghasilkan deretan adegan aksi dan ledakan di dalam film ini.
Masalah besar lain yang ada dalam Battleship berada pada departemen akting film ini. Memang, seperti halnya naskah cerita, penampilan akting bukanlah hal yang diutamakan dalam film-film sejenis. Namun departemen akting Battleship diisi dengan penampilan-penampilan yang medioker. Tidak buruk sebenarnya, namun setiap jajaran pemeran film ini seperti tidak memiliki chemistry yang meyakinkan satu sama lain. Alexander Skarsgård terasa janggal untuk dijadikan kakak kandung Taylor Kitsch. Asmara percintaan karakter Alex (Kitsch) dengan Samantha (Brooklyn Decker) juga terlihat begitu palsu. Persahabatan yang terjalin antara karakter Alex (Kitsch), Raikes (Rihanna), Nagata (Tadanobu Asano) dan Ordy (Jesse Plemons) juga terlihat kurang meyakinkan. Kemudian ada Liam Neeson yang hadir dengan peran yang singkat dan nyaris tanpa kegunaan apapun. Battleship sebenarnya dapat saja terasa lebih menghibur jika hubungan yang terjalin antara karakternya mampu hadir lebih kuat dan meyakinkan.
Sebenarnya, di sepanjang penceritaan Battleship, adalah sangat terasa bahwa Berg tidak menginginkan agar filmnya bergerak dengan alur yang terlalu serius. Bahwa ia memproduksi Battleship murni sebagai sebuah hiburan yang kadang terasa konyol dan penonton seharusnya turut memperlakukan hal yang sama ketika menyaksikannya. Tidak salah. Namun berbagai kelemahan yang tertera di sepanjang penceritaan Battleship seringkali justru membuat film ini terasa bercerita secara bertele-tele, terlalu datar dan cenderung membosankan. Tampilan special effect yang cukup intens dihadirkan di beberapa adegan setidaknya mampu menghindarkan Battleship menjadi sebuah film yang begitu buruk. Sebuah film yang predictable, dangkal dan gagal memanfaatkan berbagai potensinya untuk tampil bersenang-senang.
#Sumber :



SCREENSHOT : 

http://msnbcmedia.msn.com/j/MSNBC/Components/Photo/_new/g-ent-120517-battleship.380;380;7;70.jpg


http://www.experiencefilm.com/wp-content/uploads/2012/03/battleship.jpg

http://cdn.gamerant.com/wp-content/uploads/Battleship-Game-Review.jpg

jangan Lupa Like FB-nya!! atau klik DISINI!
Untuk Download Klik gambar QR code di bawah!!


PASSWORD Tinypaste :
Shimpel.blogspot.com

Ucapankan terimakasih anda dengan klik salah satu iklan dibawah!! TERIMA KASIH!!

John Carter [2012]

http://danieldokter.files.wordpress.com/2012/03/john-carter.jpg
John Carter

INFO :

Kurangnya penjelasan logis menjadikan film John Carter kurang menggigit.
Ibaratnya meracik resep, menggabungkan berbagai unsur bukanlah jaminan kualitas jika tidak sesuai takaran. Inilah yang terjadi di film John Carter, produksi Walt Disney. Film yang diangkat dari kisah A Princess of Mars karya Edgar Rice Burroughs ini mencoba mengumpulkan semua formula film petualangan.
Disutradarai Andrew Stanton yang lebih banyak menggarap film-film animasi, John Carter menggabungkan berbagai unsur film-film petualangan. Kita akan mendapatkan kesan sedikit Star Wars, Indiana Jones, hingga The Lord of the Rings di dalam film yang juga ditulis skenarionya oleh Stanton bersama Mark Andrews dan Michael Chabon.
Kisah John Carter sebenarnya sederhana. John Carter (diperankan Taylor Kitsch) adalah mantan tentara sipil Amerika pada tahun 1868. Ia membelot dan saat dalam sebuah pengejaran, tanpa sengaja ia masuk ke dalam sebuah gua yang ditakuti oleh suku Indian.
Di dalam gua itulah, Carter tanpa sengaja melintasi ruang dan tiba-tiba tersadar di sebuah daratan seperti gurun. Di daratan ini, Carter mendapati tubuhnya bisa meloncat tinggi. Ia bahkan kesulitan melangkah menapak tanah.
Saat di gurun inilah ia ditangkap makhluk aneh berwarna hijau dengan tanduk di hidungnya. Dalam waktu singkat Carter terlibat dalam petualangan ajaib yang tak hanya mengantarnya bisa berkomunikasi dengan makhluk itu tapi juga bertemu Dejah Thoris (Lynn Collins), yang memberitahunya bahwa ia saat ini berada di Mars, planet yang oleh penduduk di situ disebut Barsoom. Sementara Bumi disebut Jarsoom oleh penduduk Mars.
Di Barsoom inilah, Carter tiba-tiba terjebak dalam perang antara kerajaan Helium dan Zodanga yang jika dimenangkan oleh Zodanga, Barsoom akan hancur. Dejah Thoris sendiri ternyata putri kerajaan Helium yang memegang kunci untuk menyelamatkan Barsoom. Pasalnya, Dejah juga seorang ilmuwan. Temuannya itu mengkhawatirkan pihak-pihak yang menginginkan planet Mars hancur.
Sebagai manusia bumi, Carter memiliki kekuatan yang terbilang ajaib untuk penduduk Barsoom. Ia tak hanya bisa meloncat sangat tinggi karena perbedaan tingkat gravitasi antara bumi dan Mars, namun juga kekuatan fisik yang membuatnya sangat kuat.
Jika biasanya kita menghadapi sosok superhero berasal dari kekuatan lain di luar bumi, film John Carter membalikkan kebiasaan tersebut. Dengan kemanusiaan buminya, Carter menjadi sosok pahlawan super di Mars.
Seharusnya keunikan cerita ini bisa digarap menjadi film yang melanjutkan kejayaan film-film kolosal. Sayangnya, terdapat sejumlah kelemahan di sana-sini. Salah satunya untuk motif cerita. Kepentingan pihak tertentu untuk menghancurkan Mars tak diungkapkan secara jelas.
Kurang dijelaskan pula tentang teori bagaimana Carter bisa melintasi waktu untuk sampai ke Mars dalam waktu singkat. Setidaknya penjelasan yang bisa diterima akal sehat.
Selebihnya, seperti film-film Walt Disney lainnya yang berhasil menyisipkan komedi dalam kisah-kisah petualangannya, film John Carter juga lumayan sering membuat penonton tertawa. Situasi dan sejumlah dialog mampu membuat penonton terhibur, khas kekuatan Stanton yang dua kali meraih Oscar lewat Wall E dan Finding Nemo.
Dari segi visual, film ini memikat mata dengan warna-warna mencolok khas planet Mars yang sering dijuluki planet merah. Belum lagi penokohan karakter-karakter uniknya. Meski tersedia dalam format 3 Dimensi, tak banyak perbedaan antara format orisinil maupun 3 Dimensi-nya.
#Sumber :
 http://id.berita.yahoo.com/john-carter-kisah-petualangan-tawar-di-panasnya-mars-082557756.html

SCREENSHOT : 


http://www.indiewire.com/static/dims4/INDIEWIRE/ef7800a/4102462740/thumbnail/680x478/http://d1oi7t5trwfj5d.cloudfront.net/75/764b50698111e19987123138165f92/file/John-Carter-1-680.jpg

http://www.newyorker.com/online/blogs/movies/john-carter.jpg

http://media.salon.com/2012/03/john_carter-460x307.jpg

jangan Lupa Like FB-nya!! atau klik DISINI!
Untuk Download Klik gambar QR code di bawah!!


PASSWORD Tinypaste :
Shimpel.blogspot.com

Ucapankan terimakasih anda dengan klik salah satu iklan dibawah!! TERIMA KASIH!!